DASAR PEMIKIRAN DAN FUNGSI PENGEMBANGAN

DASAR PEMIKIRAN DAN FUNGSI PENGEMBANGAN


    cara membuat pola baju anak  -  Masa kanak-kanak/paud, sangat penting untuk mendasari pemahaman terhadap pengetahuan, sikap dan kepribadian. Masa pendidikan Taman Kanak-kanak sangat pendek antara 1-2 tahun.  Pada masa ini proses pembelajaran bagi anak ditekankan pada aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik/motorik, konitif, bahasa social emosional, konsepdiri, disiplin, kemandirian, moral, seni dan nilai-nilai agama. Sebagai masa peka, pendidikan di taman kanak-kanak memberikan pengalaman yang akan dan dialami anak agar mampu menuju jenjang pendidikan selanjunya.
       Ada beragam pendapat tentang batasan anak usia dini. NAEYC menyatakan bahwa ana usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-8 tahun, yang mencakup dalam program pendidikan di Taman asauh  anak/Taman penitipan anak, penitipan anak pada keluarga (family child care home), pendidikan pra sekolah baik swasta maupun negeri, TK dan SD.
       Sedang UU Sisdiknas di Indonesia menyatakan gahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu  upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
     Anak usia dini mempunyai karakteristik yang khas dibanding pada anak usia SD., sebagai berikut:
1.    Memiliki rasa ingin tahu yang besar
2.    Merupakan pribadi yang unik
3.    Suka berfantasi dan berimajinasi
4.    Masa paling potensial untuk belajar
5.    Menunjukkan sikap egosentris
6.    Mempunyai rentang daya konsentrasi yang pendek
7.    Sebagai bagian dari makhluk sosial
Dan terdapat beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan oleh pendidik maupun orangtua Aud, adalah sebagai berikut:
1.    Membutuhkan rasa aman, istirahat dan makanan yang baik
2.    Datang ke dunia yang diprogram untuk meniru
3.    Membutuhkan latihan dan rutinitas
4.    Memiliki kebutuhan untuk banyak bertanya dan memperoleh jawaban
5.    Cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa
6.    Membutuhkan pengalaman langsung
7.    Trial and error menjadi pokok dalam belajar
8.    Bermain merupakan dunia masa kanak-kanak
          Dr. Maria Montessori dengan beberapa penelitiannya telah menemukan masa peka pada anak, dikatakan demikian karena pada masa tersebut  pada masa itu jaringan otak yang mengendalikan fungsi-fungsi tubuh sedang tumbuh dan berkembang. Munculnya periode peka ini berkaitan erat dengan faktor keturunan dan terutama pada stimulasi yang pernah diterimanya , juga ada yang mengatakan sangat tergantung pada variasi kultural (kultur dan sub kultur)
    Berdasarkan karakteristik dan beberapa hal yang membutuhkan perhatian dari pendidik di atas, maka pendidikan TK dan AUD harus memenuhi standar minimal dalam proses pembelajarannya  termasuk bagaimana system pembelajaran dan model yang digunakan didalamnya.  Dalam proses pembelajaran di TK. Misalnya, bermain di luar dan di dalam kelas, yang berkaitan dengan fungsi dan tujuan motorik halus dan kasar, harus mendapat perhatian sebagaiman kegiatan lainnya, agar pengembangan kognitif, afektif dan psikomotor berjalan seimbang, karena jika tidak, maka akan menghambat laju pertubuhan fisik anak.
     Perkembangan anak pada usia 4-5 tahun lebih mengarah pada perkembangan dendrite-dendrit (tonjolan yang menghantarkan informasi menuju badan sel) atau disebut juga serabut syaraf dan juga otak tengah beradaptasi terhadap lingkungan untuk membentuk denditic sprouting (pertumbuhan tunas sel dendrite). Prinsipnya adalah bagaimana aksi lingkungan terhadap, perilaku dan bagaimana reaksi individu terhadap lingkungan.
       Lingkungan untuk anak usia 3-6 tahun diantaranya:
1.    Harus menyediakan kesempatan bermain di dalam dan di luar ruangan
2.    Menyediakan kesempatan untuk mengadakan hubungan dengan oranglain
3.    Menyediakan bermacam-macam bahan permainan yang mendukung 3 jenis permainan (sensorimotor, peran dan pembangunan) dll (lihat muflihah sulastri)
        Anak-anak usia 3-4 tahun merupakan anak yang luar biasa aktif, keterampilan tangan dan kaki termasuk kemampuan anak  yang banyak diteliti dan diamati, mengingat beberapa indikasi anak yang sehat ditunjukkan dengan adanya aktivitas gerakan fisik yang juga berkaitan dengan psikis anak. anak yang sehat akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang normal dan wajar. kebutuhan fisik anak-anak meliputi kebutuhan energy untuk melakukan berbagai aktivitas dan perilaku makan yang akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan nutrisi untuk menjadi anak yang sehat dan kebebutuhan tidur yang bermanfaat untuk mengembalikan seseorang pada kondisi semula.
Ciri-ciri anak yang sehat menurut Departemen Kesehatan RI Tahun 1993:
1.    Tumbu dengan baik yang dapat dilihat dari naikna berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional
2.    Tingkat perkembangan sesuai umurnya
3.    Tampak aktif, gesit dan gembira
4.    Mata bersih dan bersinar
5.    Bibir dan lidah tampak segar
6.    Pernafasan tidak berbaau
7.    Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering
8.    Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.



Pert. Ke 2
KONSEP PERKEMBANGAN MOTORIK
PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK

A.    Pengertian Motorik
Motorik merupakan terjemahan dari kata motor yang artinya ’dasar mekanika yang menyebabkan terjadinya suatu gerak’. Gerak (movement) adalah suatu aktivitas yang didasari oleh proses motorik. Proses motorik ini melibatkan sebuah sistem pola gerakan yang terkoordinasi (otak, saraf, otot, dan rangka) dengan proses mental yang sangat kompleks, yang disebut sebagai proses cipta gerak. Keempat unsur tersebut tidak bisa bekerja secara sendiri-sendiri, tetapi selalu terkoordinasi. Apabila salah satu unsur mengalami gangguan, gerak yang dilakukan dapat mengalami gangguan pula. Dengan kata lain, gerakan yang dilakukan oleh anak secara sadar dipengaruhi oleh stimulus dari lingkungannya (informasi verbal atau lisan, gambar, dan alat lainnya) yang dapat direspons oleh anak.
Kemampuan gerak dasar sudah dimulai sejak anak dalam kandungan sampai lahir. Pada saat lahir bayi mulai menggerakkan kedua tangannya, kemudian menarik dan menjulurkan kedua kakinya, memutar badan ke samping, tengkurap, merangkak, merambat untuk berdiri, dan berjalan hingga berlari. Gerak dasar meliputi gerak lokomotor, nonlokomotor, dan gerak manipulatif.
Gerak lokomotor adalah gerakan yang memindahkan tubuh atau berat badan dari satu tempat ke tempat lainnya dan biasanya membutuhkan ruang yang cukup lebar dan luas, seperti jalan, jinjit, lari, loncat, dan lompat serta gerak kombinasi; meluncur, menggeser ke kanan dan ke kiri.
Gerak nonlokomotor adalah gerak yang dilakukan di tempat, tanpa menggunakan ruang yang lebar dan luas seperti membungkuk, menekuk, mengayun, bergoyang, berputar, dan meliuk.
Gerak manipulatif dilakukan apabila anak menghadapi berbagai macam objek dan cenderung mengarah pada koordinasi antara mata dan kaki, mata dan tangan, seperti mendorong, memukul, memantul, melempar, menendang, berguling, menerima, menangkap, menghentikan, menari, dan melakukan gerak pantomim. Kemampuan gerak dasar inilah yang akan berperan sebagai landasan perkembangan keterampilan motorik halus anak.

B. Perkembangan Motorik
       Perkembangan motorik, adalah perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat saraf, urat saraf, dan otot yang terkoordinasi (Elizabeth, 1978), Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan anak pada masa atau sejak lahir. Dalam proses perkembangan motorik tersebut ada beberapa prinsip perkembangan motorik berdasarkan beberapa hasil penelitian yang cukup lama (longitudinal), yaitu:
1. perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot dan saraf;
2. belajar keterampilan motorik tidak terjadi sebelum anak matang (otot dan sarafnya);
3. perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan (Cephalocaudal: dari kepala ke kaki dan Proximaodistal: dari sendi utama ke bagian terkecil);
4. dimungkinkan menentukan norma perkembangan motorik (berdasarkan umur rata-rata untuk menentukan norma bentuk kegiatan motorik lainnya);
5. terjadi perbedaan individual dalam laju perkembangan motorik.
Endang (2007) mengemukakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak yang menyebabkan perbedaan individual antara anak yang satu dan yang lainnya di antaranya adalah:
1. sifat dasar genetik (faktor bawaan);
2. keaktifan janin dalam kandungan;
3. kondisi pranatal yang menyenangkan, khususnya kondisi ibu dan gizi makanan sang ibu;
4. proses kelahiran, apabila ada kerusakan pada otak akan memperlambat perkembangan motoriknya;
5. kondisi pascalahir, berkaitan dengan kondisi lingkungan sekitar yang dapat menghambat/mempercepat laju perkembangan motoriknya;
6. ada tidaknya rangsangan, dorongan, dan kesempatan untuk mengerakkan semua anggota tubuh;
7. cacat fisik, akan dapat memperlambat perkembangan motorik anak.
     Tugas perkembangan anak yang penting dalam masa TK dan dalam tahun-tahun permulaan sekolah terdiri atas perkembangan motorik yang didasarkan pada penggunaan kumpulan otot yang berbeda secara terkoordinasi.
C. Kemampuan Motorik Anak TK
           Kemampuan motorik dapat berkembang secara alami tanpa dilatih karena adanya pengaruh pertumbuhan dan kematangan anak. Perubahan kematangan itu hanya meningkatkan keterampilan sampai batas minimal. Contoh sederhana adalah keterampilan memegang pensil. Tanpa berlatih pun kemampuan anak memegang pensil tetap akan berkembang. Namun, perlu dipertanyakan seberapa jauh tingkat keterampilan itu dapat berkembang jika tidak dilatih secara khusus sesuai dengan tujuan dan fungsinya.
         Agar kemampuan motorik anak TK terlatih dibutuhkan pemahaman tentang kesadaran motorik yang meliputi: pancaindera, keseimbangan, ruang, tubuh, waktu, dan arah dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Kesadaran motorik yang berhubungan dengan pancaindera merupakan alat yang digunakan untuk mengenali lingkungan sekeliling anak TK sehingga anak dapat berinteraksi.
2. Kesadaran motorik yang berhubungan dengan keseimbangan adalah kemampuan menjaga pusat berat badan.
3. Kesadaran motorik yang berhubungan dengan ruang merupakan kemampuan memahami ruang eksternal atau sekitar anak TK dan memfungsikan motorik melalui ruang tersebut, seperti lingkaran, segi tiga, dan segi empat.
4. Kesadaran motorik yang berhubungan dengan tubuh merupakan kemampuan untuk mengetahui dan memahami nama dan fungsi macam-macam bagian tubuh yang melekat pada diri anak TK, seperti kaki, tangan, mata, dan telinga.
5. Kesadaran motorik yang berhubungan dengan waktu merupakan kemampuan menduga waktu kedatangan didasarkan pada ciri kecepatan jalannya benda, berat, dan jarak benda. Dengan kata lain, waktu merupakan kemampuan individu mengantisipasi suatu benda yang datang kepadanya.
Perubahan keterampilan motorik anak karena faktor kematangan jelas tidak dapat dinyatakan sebagai hasil belajar atau latihan. Pemberian latihan yang sistematis dan terprogram secara baik memerlukan pengembangan kemampuan motorik, dalam hal ini motorik halus, yang menjadi upaya konkret dalam memfasilitasi peningkatan keterampilan motorik halus anak secara optimal.
D. Tujuan
     Tujuan pengembangan fisik/motorik di TK adalah untuk memperkenalkan dan melatih gerak kasar dan halus, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan ketrampilan tubuh , dan cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang sehat, kuat dan terampil.
E. fungsi
     Fungsi pengembangan fisik/motorik di TK adalah sebagai berikut:
1.    Melatih kelenturan dan koordinasi otot jari dan tangan
2.    Memacu pertumbuhan dan pengembangan fisik/motorik, rohani dan kesehatan anak
3.    Membentuk, membangun dan memperkuat tubuh anak
4.    Melatih ketrampilan/ketangkasan gerak dan berpikir anak
5.    Meningkatkan perkembangan emosional anak
6.    Meningkatkan perkembangan sosial anak
7.    Menumbuhkan perasaan menyenangi dan memahami manfaat kesehatan pribadi



Pertemuan ke 3
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS
     Pada masa taman kanak-kanak penyerapan informasi akan berlangsung sangat cepat dan cepat pula direspon oleh otak sehingga anak pada masa ini banyak melakukan peniruan terhadap bahasa, perilaku dan emosional. Masa ini dikenal pula sebagai masa emas (golden age). Hal ini berarti pula peletakan proses pendidikan TK haruslah benar dan sesuai dengan karakter dan perkembangan anak, sehingga dapat dikembangkan menuju pertumbuhan yang optimal dan jika terdapat kekeliruan maka akan mengakibatkan penyimpangan terhadap tumbuh kembang anak yang sulit untuk diperbaiki. Hal ini akan merugikan anak dalam menghadapi masa depannya, keluarga dan bangsa.
     Proses pembelajaran di TK tidak memperhatikan salah satu aspek secara parsial (sebagian), melainkan menyeluruh terhadap komponen terkait pada diri anak. Pertumbuhan otak pada masa ini perlu mendapat rangsangan untuk menerima informasi yang bermanfaat bagi anak serta mengembangkan sikap social-emosional, seiring itu pula pertumbuhan otak dan juga pertumbuhan jasmani penting untuk diperhatikan.Terganggunya keseimbangan pertumbuhan jasmani akan mengganggu anak dalam melakukan aktivitas dan keterampilan fisik/motorik yang melibatkan system kerja sensori –motorik (system syaraf dan otot).
A.    Lingkup Pengembangan Motorik Halus (Fine Motor Skill)
              Motorik halus adalah gerakan tubuh yang melibatkan otot-otot kecil, misalnya otot-otot jari tangan, otot muka, dll. Gerakan motorik halus terutama yang melibatkan otot tangan dan jari, biasanya membutuhkan kecermatan tinggi, ketekunan dan koordinasi antara mata dan otot kecil, tidak banyak membutuhkan tenaga. Beberapa gerakan yang dapat dimasukkan dalam gerakan motorik halus misalnya: meronce, menggunting, merobek, menggambar, melipat, meremas, tertawa, melotot dll. Kesimpulannya adalah: pengorganisasian penggunaan otot kecil seperti jemari tangan yang membutuhkan adanya koordinasi dengan baik antara mata dan tangan.
     Khusus di TK, pengembangan kegiatan motorik halus lebih banyak diarahkan pada latihan otot tangan dan jari. Keterampilan ini digunakan untuk makan, berpakaian menulis dan menggunakan alat bermain konstruksi kecil. Motorik halus ini akan berkembang sesuai dengan usia anak.
    Seiring dengan perkembangan motorik halus anak, tepat sekali diajarkan atau dilatihkan tentang hal-hal berikut:
1.    Dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar
2.    Pengembangan Motorik Halus di TK
3.    Dasar ketrampilan kegiatan mandiri
4.     Dasar ketrampilan kelentukan otot-otot tangan dll

Prinsip-prinsip pengambangannya adalah sbb:
Prinsip-prinsip pengambangan motorik halus usia TK (4-6) menurut Depdiknas (2007:13) adalah sebagai berikut:
1.    Memberikan kebebasan berekspresi pada anak
2.    Melakukan pengaturan waktu, tempat, media (alat dan bahan) agar dapat merangsang anak untuk kreatif
3.    Memberikan bimbingan kepada anak untuk menentukan tehnik/ cara yang baik dalam melakukan kegiatan dengan berbagai media
4.    Membimbing anak sesuai dengan kemampuan dan taraf perkembangannya
5.    Memberikan rasa gembira dan menciptakan suasanya yang menyenangkan
6.    Melakukan pengawasan secara menyeluruh

Prinsip-prinsip pengembangan motorik ini bagi guru adalah:
1.    Berorientasi pada kebutuhan anak
2.    Belajar sambil bermain
3.    Kreatif dan inovatif
4.    Lingkungan yang kondusif
5.    Berkaitan dengan tema
6.    Mengembangkan ketrampilan hidup

Pada usia 4-10 tahun, struktur konsep anak terdiri atas tiga area otak (kognitif, bahasa, motorik) yang terintegrasi dan multidimensi. Sebagai contoh: anak berhitung dengan menggunakan alat permainan edukatif, anak membilang (pengembangan kognitif), mengucapkan urutan bilangan, satu, dua, tiga dsb, (pengembangan kognitif dan bahasa) serta menyentuh, memegang, memindahkan, meraih benda (pengembangan motorik halus), hal ini dikuatkan oleh teori Split brain serta hemispheric specialization  (WR Sperry et.al. dalam Sidiarto&Lilly, 2008) bahwa kemampuan otak kiri mencakup pada:
1.    Komunikasi verbal
2.    Linguistik
3.    Logis dan analitis
4.    Simbolik
5.    Praktis
6.    Rincian internal
7.    Proses aritmatik
8.    Serial
9.    Fokus
10.    Perbedaan
11.    Tergantung pada waktu
12.    Segemental dan
13.    Pikiran konvergen
Dan kemampuan otak kanan mencakup:
1.    Komunikasi prakmatik
2.    Visual imajinasi
3.    Pengenalan wajah
4.    Konfigurasi eksternal
5.    Holistik intuitif
6.    Susunan spasial
7.    Paralel
8.    Tidak bergantung waktu
9.    Spasial, global
10.    Pikiran diverrgen
11.    Seni, spiritual, kreativitas.
Berdasarkan uraian di atas, proses pembelajaran yang dikembangkan diharapkan dapat melibatkan dan memanfaatkan keseluruhan bagian kedua belahan otak, kanan dan kiri, dengan baik sehingga dapat menciptakan peserta didik yang kreatif, produktif dan mempunyai pola pikir yang menyeluruh, yaitu cerdik dan cerdas. Untuk itu, alat permainan edukatif yang digunakan di TK harus sesuai dengan karakter pertumbuhan dan perkembangan anak dan dapat merangsang perkembangan kedua belahan otak (kanak dan kiri) sehingga semua alat/bahan dapat digunakan secara optimal dan sesuai dengan kurikulum TK tahun 2004 atau 2010. (lihat Kompetensi Motorik Halus untuk TK A dan B)
Beberapa pengaruh perkembangan motorik terhadap konstelasi (sifat/watak) perkembangan individu, dipaparkan oleh Hurlock sebagai berikut:
1.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya ke kondisi yang independent.
2.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperolah perasaan senang. Seperti anak senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan
3.    Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis dan baris-berbaris
4.    Melalui perkembangan  motorik yang normal memungkinkan anak untuk bermain dangan teman sebayanya.
5.    Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self concept atau kepribadian anak.
1)    Pengembangan motorik halus untuk TK kelompok A (usia 4-5 tahun):
a) Pengembangan kemandirian yang sekaligus kemampuan motorik halus:
      (1) membersihkan diri sendiri dengan bantuan (misalnya meng-gosok gigi, mandi, dan      buang air);
      (2) mengurus diri sendiri dengan sedikit bantuan (misalnya ber-pakaian dan makan);
b) Pengembangan kemampuan bahasa,  khususnya pramenulis, sekaligus 
kemampuan motorik halus:
membuat berbagai macam coretan membuat gambar dan coretan (tulisan) tentang cerita mengenai gambar yang dibuatnya.
        c) Pengembangan kognitif, sekaligus kemampuan motorik halus:
(1) menyusun 4-6 kepingan puzzel menjadi bentuk utuh;
(2) mengisi wadah dengan air, pasir, biji-bijian, beras, dll.;
(3) membilang dengan benda-benda;
(4) mengelompokkan bentuk geometri.
       d) Pengembangan motorik halus:
(1) memegang pensil (belum sempurna) untuk menggambar bebas dengan gerakan naik  turun bersambungan
(2) membuat berbagai bentuk dengan menggunakan plastisin, playdough, dan tanah liat
(3) menjiplak dan meniru membuat garis tegak, datar, miring, lengkung, dan lingkaran
(4) meniru melipat kertas sederhana (1-6 lipatan)
(5) menjahit jelujur sepuluh lubang dengan tali sepatu
(6) menggunting bebas
(7) merobek bebas
(8) menyusun menara dari kubus minimal delapan kubus
(9) membuat lingkaran dan segi empat.
     e) Pengembangan seni, sekaligus kemampuan motorik halus:
(1) menggambar bebas dengan berbagai media (pensil warna, krayon, arang, dll.);
(2) menggambar orang dengan lengkap dan sederhana (belum proporsional);
(3) mewarnai bentuk geometri dengan ukuran besar;
(4) meronce dengan manik-manik;
(5) menciptakan dua bentuk bangunan dari balok;
(6) mencipta dua bentuk dari kepingan bentuk geometri
(7) mencipta bentuk dengan lidi, sedotan, dan sendok es krim;
(8) menganyam dengan kertas atau pita;
(9) membatik dan jumputan;
(10) mencocok dengan pola buatan pendidik;
(11) permainan warna dengan berbagai media;
(12) melukis dengan jari (finger painting);
(13) bertepuk tangan dengan dua pola.
(14) mengekpresikan diri dalam bentuk gerak sederhana;
(15) memainkan alat musik sederhana.
2)  Pengembangan Motorik halus untuk TK kelompok B (usia 5-6th), sebagai berikut;
      a) Pengembangan Kemandirian sekaligus kemampuan motorik halus:
          (1) membersihkan diri sendiri tanpa bantuan orang lain (misalnya gosok gigi, mandi dll)
          (2) mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang lain (misalnya berpakaian, makan dll)
      b) Pengembangan bahasa sekaligus kemampuan motorik halus
          (1) membuat gambar dan menceritakan isi gambar dengan beberapa coretan/tulisan yang 
               sudah berbentuk huruf/kata
         (2)  mengisi dan menyebutkan isi wadah (satu gelas, satu botol dll dengan air, pasir biji-bijian dll)
      c) Pengembangan kognitif sekaligus kemampuan motorik halus
          (1) membuat bentuk2 geometri
          (2) menyusun kepingan puzzel menjadi bentuk utuh (lebih dari delapan kepingan)
      d) Pengembangan Motorik halus
         (1) mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain
         (2) memegang pensil dengan benar
         (3)membuat bentuk dengan berbagai media
         (4) miniru melipat kertas dengan sederhana dll 
      e) Pengembangan Seni, sekaligus kemampuan motorik halus
         (1) menggambar bebas dengan berbagai media
         (2) menggambar bebas dari bentu dasar titik, lingkaran, segitiga, segi empat
         (3)menggambar orang dengan lengkap, baik proporsional maupun sederhana
        (4) melukis dengan jari
        (5) mencocok dengan pola sederhana dll.
 (untuk lengkapnya, lihat di  buku aktivitas pembelajaran motorik halus di TK)
      Dalam pelaksanaan aktivitas motorik halus anak suka mengulang-ulang (repetition) kemampuan yang sudah dikuasai. Untuk mengembangkan kemampuan anak dibutuhkan sesuatu untuk membantu anak berfokus (decenter). Ketika anak masih suka menggunting lurus berulang-ulang (repetition), gunakan “decenter” untuk menggunting bentuk tertentu, misal : menggunting persegi gunakan cergam-cergam bentuk persegi dari majalah bekas sebagai decenter.
     Contoh lain, anak masih suka mengulang-ulang membuat lingkaran-lingkaran tak beraturan (repetition), anak diajak menarik garis lurus tetapi anak tetap mengulang-ulang hal yang sama. Anak dapat diajak menempel gambar rumah dan mobil, kemudian anak diajak berimajinasi menyetir mobil menuju rumah dengan menarik garis. Akhirnya anak mau menarik garis lurus karena ada mobil dan rumah sebagai decenter.
      Apabila dalam aktivitas motorik halus anak masih kesulitan menggerakkan sendi yang terkecil, anak dapat dilatih menggunakan sendi yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock, bahwa perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan (Cephalocaudal: dari kepala ke kaki dan Proximaodistal: dari sendi utama ke bagian terkecil). Contoh: Ketika anak belum bisa menganyam dengan media yang kecil (motorik halus), anak dapat melakukan dengan tangan/badan/benda berukuran besar, dan tentunya akan melibatkan sendi yang lebih besar. Contoh lain : ketika anak belum bisa menulis di kertas, guru bisa melatih anak menulis di papan tulis/di udara (melibatkan sendi yang lebih besar). Kalau masih belum bisa anak dapat dilatih berjalan atau bergerak mengikuti bentuk huruf atau mengikuti pola di lantai dengan tubuhnya (melibatkan sendi yang lebih besar lagi).

B.    PELAKSANAAN DAN PENGEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK TK
1.    Pelaksanaan
Pelaksanaan aktivitas motorik halus dapat dikembangkan oleh pendidik bersifat adaptif (sesuai dengan situasi dan kondisi), oleh karenanya pelaksanaannya dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bentuk dan variasi
2.    Pengembangan
Dalam pengembangan motorik halus, pendidik perlu lebih optimal untuk  memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya alam di daerah masing-masing, yang memerlukan kerjasama dengan instansi pemerintah, swasta dan industri terkait dengan program aktivitas anak TK.
                 Contoh pelaksanaan aktivitas dan pengembangan motorik halus yang terintegrasi dengan pengembangan kemampuan lain
                (hal 15-26, aktivitas pembelajaran motorik halus di tK, dikutip ibu sulastri Yusro= dijadikan tugas kelompok untuk mahasiswa)



Tahap Perkembangan Motorik halus
(pert. Ke 5)
Tahapan ini disusun sebagai acuan bagi pendidik untuk mengetahui tahapan perkembangan kemampuan motorik halus anak, sehingga pendidik dapat mempersiapkan aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan anak. Tahapan perkembangan setiap anak berbeda, oleh karena itu tingkatan kesulitan aktivitas tidak bisa disamakan untuk setiap anak.
Tahap Perkembangan Seni Menggambar pada Anak-anak
Setiap anak melalui jalan yang sama pada perkembangannya tetapi tiap langkah perkembangannya bervariasi.  Tahapan perkembangan menggambar adalah sebagai berikut.
1.  Mencoret (scribble)
Pada tahap ini anak berlatih mencoret-coret dan menjelajah hubungan antara tanda-tanda di kertas dan media gambar lainnya. Secara garis besar karakteristik tahapan mencoret adalah sebagai berikut.
a.      Dilakukan oleh anak yang berusia 18 bulan sampai     
        3 tahun.
b.   Anak-anak membuat coretan acak dan menjelajah peralatan dengan cara   
     bermaian yang menyenangkan.
c.      Pada coretan pertama masih belum terkoordinasi dan kemudian pada coretan-coretan selanjutnya mengalami kemajuan menjadi semakin terkoordinasi.
d.      Anak-anak mencoba memegang pensil dengan tangan kanan atau kiri.
e.   Anak mampu menunjukkan objek-objek yang telah digambarnya dan menyebutkan itu gambar apa saja.
f.       Anak belajar mengatakan tentang tanda-tanda, warna, dan sebagainya berdasarkan apa yang telah digambarnya.
2.  Tahap Pra-skematik (Pre-schematic Stage)
Pada tahap ini anak mampu menjelajah hubungan antara menggambar, berpikir, dan kenyataan. Secara garis besar karakteristik tahap pra-skematik adalah sebagai berikut.
a.      Dilakukan oleh anak yang berusia 4 – 7 tahun.
b.  Anak, dalam memilih warna, tidak berdasarkan kenyataan tetapi berdasarkan warna kesukaannya.
c.  Anak menggambar orang dalam format yang sederhana dengan menonjolkan ciri utama, misalnya mata dan rambut.
d.    Gambar orang yang dibuat anak seperti kecebong, kepala berukuran besar, badan kecil kurus dan tangan yang panjang.
e.      Objek yang digambar mengambang, tidak digambar sesuatu di mana objek tadi berada, misalnya tanah, lantai, meja, dst.
f.       Anak menggambar “dengan  sinar X”, seolah-olah isi rumah terlihat semua dari luar meskipun ada dindingnya.. Misalnya gambar rumah terlihat pula isinya seperti meja – kursi, almar, tempat tidur, dst.
3.  Tahap Skematik (Schematic Stage)
Terdapat kemajuan besar pada tahap ini. Dalam menggambar anak menampilkan garis, warna,  dan ruang untuk memperjelas objek yang digambarnya. Karakteristik tahap skematik adalah sebagai berikut.
a.      Dilakukan oleh anak yang berusia 7 – 9 tahun.
b.      Anak sudah memilik skema tentang cara menggambar. Misalnya saja pada saat dia menggambar gelas, ia akan menggambar dengan pola yang sama untuk kesempatan yang berbeda,
c.    Warna yang pilih adalah warna yang realistis, sesuai dengan warna objek yang digambarnya.
d.      Anak sering menggunakan warna pilihan sebagai dasar pada peniruan pikiran dengan warna yang tepat pada suatu benda seperti biru untuk warnalangit dan hijau untuk warna rumput.
e.      Ketika menggambar pemandangan, anak mengawali dengan membuat garis langit dan garis tanah (batas cakrawala).
f.    Bila anak menggambar orang, gambar tersebut sudah proporsional (ukuran kepala, badan, tangan, dst. kelihatan serasi) dan rinci.
g.      Anak mulai memahami hubungan antara seni dengan dunia mereka.
h.     Anak dapat bercerita yang panjang dari apa yang digambarnya.
Contoh-contoh tahapan Perkembangan Menggambar dan
 


Tahap Perkembangan Anak Mewarnai
1.    Warna acak
2.    Warna mulai mengumpul di sebagian objek dan di luar objek gambar
3.    Warna mulai mengumpul di beberapa bagian objek
4.    Warna mengumpul di objek tetapi masih menabrak garis
5.    Warna mengumpul mulai rapat, warna masih ke luar garis
6.    Warna tidak ke luar garis, tetapi ada sedikit yang belum diwarnai
7.    Warna sudah rapi, penuh, dan pemilihan warna bagus

Tahap Perkembangan Anak Melukis
 


Tahap Perkembangan Menggunting
1.    Menggunting sekitar pinggiran kertas
2.    Menggunting dengan sepenuh gunting
3.    Menggunting terus-menerus sepanjang kertas
4.    Menggunting di antara dua garis
5.    Menggunting bentuk tidak pada garis/belum terkendali
6.    Menggunting pada garis tebal sesuai dengan garis dengan terkendali
7.    Menggunting berbagai macam bentuk


Tahap Perkembangan Mengisi Pola
1.    Mengisi pola dengan acak
2.    Mengisi pola di sebagian objek dan di luar objek gambar
3.Mengisi pola di beberapa bagian objek
4.Mengisi pola di objek tetapi masih melewati garis
5.Mengisi pola mulai rapat, masih sedikit keluar garis
6.Mengisi pola tidak keluar garis tapi ada sedikit yang belum rapat
7. Mengisi pola sudah rapi dan penuh
8. Mengisi pola sudah rapi, penuh dan pemilihan warna bagus

Tahap Perkembangan Seni Tiga Dimensi
1.Bentuk masih acak
2. Bentuk mulai terarah, tetapi masih dibimbing
3. Ada bentuk objek/pola, belum tepat
4. Ada bentuk objek/pola, hampir tepat tetapi belum rapi
5. Bentuk objek/pola yang tepat dan rapi
6. Bentuk objek/pola tepat, rapi dan ada pengembangan kreativitas
 bentuk/pola

Tahap Perkembangan Anak Menjahit
1.    Menjahit dengan tali secara acak
2.    Menjahit dengan tali secara teratur, tetapi ada yang terlewati/arah terbalik
3.    Menjahit dengan tali secara teratur sampai sepuluh lubang
4.    Menjahit dengan benang, jarum dan kertas, tetapi ada yang terlewati/arah terbalik, di antara dua garis
5.    Menjahit dengan benang, jarum dan kertas tidak ada yang terlewati, tetapi belum tepat pada garis (belum terkendali)
6.    Menjahit dengan benang, jarum, dan kertas berbagai bentuk sederhana


Tahap Perkembangan Anak Meronce
1.    Mengosongkan dan mengisi rangkaian

2.    Meronce kalung untuk bermain peran/ digunakan sebagai alat

3.    Meronce terus-menerus sampai batas benang

4.    Meronce berdasarkan warna

5.    Meronce berdasarkan bentuk

6.    Meronce berdasarkan warna-bentuk

7.    Meronce berdasarkan warna, bentuk dan ukuran


8.    Membuat pola sendiri

9.    Membaca pola kartu dari bermacam-macam tingkat kesulitan   

(http://childrengarden.wordpress.com/2010/04/02/tahap-tahap-perkembangan-anak-dalam-meronce/)
Tahap Perkembangan Pramenulis
1.    Coretan acak (random scribbling)
2.    Coretan terarah
3.    Garis dan bentuk khusus diulang-ulang atau menulis garis tiruan
4.    Latihan huruf-huruf acak atau nama
5.    Menulis nama
6.    Mencontoh kata-kata di lingkungan
7.    Menemukan ejaan
8.    Ejaan umum

Tahap Perkembangan Anak Melipat
1.    Meremas berbagai jenis kertas
2.    Meremas kertas menjadi bentuk tertentu
3.    Melipat kertas dengan acak
4.    Meniru melipat kertas menjadi satu lipatan, lipatan belum tepat
5.    Meniru melipat kertas (1-2), lipatan belum tepat
6.    Meniru melipat kertas (1-2), lipatan sudah tepat
7.    Meniru melipat kertas (3-4), lipatan hampir tepat
8.    Meniru melipat kertas (3-4), lipatan sudah tepat
9.    Meniru melipat kertas (5-6), lipatan hampir tepat
10.    Meniru melipat kertas (5-6), lipatan sudah tepat
11.    Meniru melipat kertas (7-8), lipatan hampir tepat
12.    Meniru melipat kertas (7-8), lipatan sudah tepat
13.    Mampu meniru lipatan kertas di atas 8 lipatan dengan tepat
14.    Mampu melipat berbagai bentuk lipatan dengan tepat
Tahap Perkembangan Anak Merobek
1.    Merobek kertas menjadi beberapa bagian besar secara acak
2.    Merobek kertas menjadi bagian kecil
3.    Merobek di antara dua garis
4.    Merobek tidak pada garis/belum terkendali
5.    Merobek sesuai garis/dengan terkendali
6.    Merobek berbagai macam bentuk pola yang dibuat sendiri

Tahap Perkembangan Anak Mencocok
1.    Mencocok secara acak
2.    Mencocok diantara dua garis lurus
3.    Mencocok bentuk tidak pada garis/belum terkendali
4.    Mencocok bentuk pada garis/dengan terkendali
5.    Mencocok berbagai macam pola yang dibuat sendir
  
Pertemuan ke 6
Pemberian tugas untuk dilaksanakan secara kelompok:

A.    Anggota kelompok:

Indikator        : meniru membuat garis tegak, datar, miring, lengkung dan lingkaran 
                                       (Kelompok B)
Kegiatan        : menarik garis lengkung menjadi bentuk benda (sesuai tema)
Metode         : Pemberian tugas
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak dan
•    Melatih koordinasi antara mata dan tangan
•    Melatih kerapian
 Alat             : Gambar benda (sesuai tema)
               Pensil/pensil warna/ spidol
Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  



   



Penilaian : Hasil Karya



B.    Anggota kelompok:

Indikator        : Meniru melipat kertas sederhana (kelompok B)
Kegiatan        : Melipat kertas (@minimal 3 macam sesuai tema yang disepakati&tidak
                                       sama dengan kelompok yang lain)
Metode         : Pemberian tugas/ praktek langsung
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak
•    Malatih daya ingat  anak
•    Meningkatkan kreativitas anak
•    Malatih ketelitian dan kerapian anak
 Alat             : Kertas lipat, buku gambar, lem, lap tangan
Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  




   



Penilaian : Hasil Karya
Catatan : bahan tidak harus dari kertas (misalnya daun, kain, tisu dll)
C.    Anggota kelompok:


Indikator        : Merobek bebas (kelompok A)
Kegiatan        : merobek bebas membuat suatu bentuk
Metode         : Pemberian tugas
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak
•    Melatih koordinasi tangan dan genggam
•    Mengembangkan kreativitas anak
 Alat             : kertas lipat/berwarna, kertas gambar, lem

Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  




   



Penilaian : Penugasan dan Hasil Karya

   


CONTOH PENGISIAN LANGKAH
Anggota kelompok: 1.                     2.                     3.                      4.                     5.
Indikator        : Membuat berbagai bentuk dengan menggunakan plastisin (Kelompok B)
Kegiatan        : membentuk mainan yang disenangi anak
Metode         : Pemberian tugas/ praktek langsung
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak dan
•    Mengembangkan kreativitas anak
 Alat             : Plastisin, papan alas, celemek
Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  




   



Penilaian : Hasil Karya
Catatan :
1.     Kegiatan membentuk ini juga dapat dilakukan dengan tanah liat, pasir atau alat-alat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan bahan yang akan dibentuk
2.    Pada kegiatan membentuk dengan pasir sebaiknya dilakukan di bak pasir

D.     Anggota kelompok:

Indikator        : Meniru melipat kertas sederhana (kelompok A)
Kegiatan        : Melipat kertas (@minimal 3 macam sesuai tema yang disepakati/tdk
                                       sama dengan kelompok yang lain)
Metode         : Pemberian tugas/ praktek langsung
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak
•    Malatih daya ingat  anak
•    Meningkatkan kreativitas anak
•    Malatih ketelitian dan kerapian anak
 Alat             : Kertas lipat, buku gambar, lem, lap tangan

Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  




   



Penilaian : Hasil Karya
Catatan : bahan tidak harus dari kertas (misalnya daun, kain, tisu dll)
E.    Anggota kelompok:

Indikator        : Merobek bebas (kelompok B)
Kegiatan        : merobek bebas suatu bentuk (disiapkan guru)
Metode         : Pemberian tugas
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak
•    Melatih koordinasi tangan dan genggam
•    Mengembangkan kreativitas anak
 Alat             : kertas lipat/berwarna, kertas gambar, lem
Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  




   



Penilaian : Penugasan dan Hasil Karya




F.    Anggota kelompok:

Indikator        : Mencocok Pola Sederhana (kelompok A )
Kegiatan        : Mencocok  suatu bentuk  (disiapkan guru)
Metode         : Pemberian tugas
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak
•    Melatih koordinasi tangan dan mata
•    Mengembangkan kreativitas anak
 Alat             : kertas lipat/berwarna, kertas gambar, lem
Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)




  




   



Penilaian : Penugasan dan Hasil Karya




G.    Anggota kelompok:

Indikator        : Mencocok Pola Sederhana (kelompok B )
Kegiatan        : Mencocok  suatu bentuk  (disiapkan guru)
Metode         : Pemberian tugas
Tujuan            : *  Untuk melatih motorik halus anak
•    Melatih koordinasi tangan dan mata
•    Mengembangkan kreativitas anak
 Alat             : kertas lipat/berwarna, kertas gambar, lem
Langkah-langkah Kegiatan (diskusikan, tuliskan langkah2 nya)


Penilaian : Penugasan dan Hasil Karya


Dengan adanya informasi yang kami sajikan tentang  cara membuat pola baju anak

, harapan kami semoga anda dapat terbantu dan menjadi sebuah rujukan anda. Atau juga anda bisa melihat referensi lain kami juga yang lain dimana tidak kalah bagusnya tentang Cara Membuat Kristik atau Tusuk Silang 

. Sekian dan kami ucapkan terima kasih atas kunjungannya.

buka mesin jahit : stpi-binainsanmulia.ac.id/wp-content/uploads/.../Bahan-Mid-Motorik-Halus-2021
 DASAR PEMIKIRAN DAN FUNGSI PENGEMBANGAN DASAR PEMIKIRAN DAN FUNGSI PENGEMBANGAN
DASAR PEMIKIRAN DAN FUNGSI PENGEMBANGAN

LihatTutupKomentar