Membaca Teks Anekdot dalam Puisi

Sampah adalah dalam arti sebenarnya adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah dalam arti yang lain adalah orang-orang yang tidak diinginkan keberadaanya karena mengganggu, misalnya para koruptor yang sangat merugikan rakyat. Sampah sebenarnya maupun sampah bukan sebenarnya keberadaaanya sangat mengganggu. Melalui teks anekdot kita dapat memberikan kritik terhadap masalah sampah dalam arti yang sebenarnya ataupun dalam arti yang lain.

Sampah menurut makna konotasi berarti orang-orang yang tidak berguna dan hanya mengganggu saja. Makna konotasi merupakan makna kiasan yang terbentuk dalam suatu kalimat dengan mengandung nilai-nilai emosi tertentu. Makna konotasi sering kali membingungkan para pembaca dalam menemukan makna dari suatu tulisan. Makna konotasi sangat sering dijumpai dalam karya sastra, misalnya puisi, cerpen, dan lain sebagainya. Makna konotasi dalam karya sastra membuat alur lebih hidup dan meningkatkan rasa ingin tahu pembaca. Seperti pada sajak di bawah ini.

Itu Sampah atau Apa?
Karya Aditya Yuda Kencana
Siswa, tinggal di Indramayu, Jawa Barat

Beri tahu aku jika kau lihat
Itu sampah atau apa?
Di jalanan ada sampah
Di selokan penuh sampah
Di laci meja ada sampah
Di bus, truk, dan angkot ada sampah

Di istana presiden apakah ada sampah?
Siang itu aku mencoba masuk
Dan aku telusuri setiap sudutnya
Ternyata!
Negeri kita ini apakah negeri sampah?
Lautan sampah?
Gunung sampah?
Atau tong sampah?
Sampah ada di bawah tiang bendera merah putih dan
Di balik gerbang masuk MPR ada sampah
Aku bingung, apakah di kursi-kursi parlemen ada sampah pula?
Coba lihat!

Di kursi restoran ada sampah
Di hotel berbintang ada sampah
Bahkan di meja direkturnya pun ada sampah
Di tempat penyebrangan ada sampah
Di bawah pos satpam ada sampah
Itu sampah atau apa?


Apa? Kau tak berani?
Sungguh! Sampah sudah menjadi bunga-bunga nusantara
Di mana-mana ada sampah
Apakah di mulut manusia ada sampah?
Periksa sekarang!

Di ruang sidang ada sampah
Di ruang tunggu rumah sakit ada sampah
Di atas pot bunga sekolahan ada sampah
Sampah merajalela
Cepat!
Jika tak ada, syukurlah!
Manusia sombong! Membuang sampah seenaknya!
Jangan biarkan negeri kita sebagai tong sampah terbesar!
Ingat itu!
StrukturKalimat
AbstraksiBeri tau aku jika kau lihat itu sampah atau apa?
OrientasiDi jalanan ada sampah, Di selokan penuh sampah, Di laci meja ada sampah, Di bus, truk, dan angkot ada sampah
KrisisNegeri kita apakah negeri sampah?
ReaksiApakah di mulut manusia ada sampah? Periksa sekarang!
KodaJangan biarkan negeri kita sebagai tong sampah terbesar! Ingat itu!

Setelah diidentifikasi struktur teksnya, sajak tersebut dapat digolongkan ke dalam anekdot. Karena dalam teks tersebut mengandung unsur humor dan sindiran. Tokoh 'aku' bertindak sebagai diri sendiri dan yang diajak berbicara adalah pembaca/pendengar teks tersebut. Si aku lirik merasa prihatin dengan kebiasaan orang membuang sampah sembarangan, merasa tidak nyaman dan prihatin dengan kondisi lingkungan sekitar yang penuh sampah. Dalam teks tersebut, tokoh 'aku' mengeluh karen banyak sampah dimana-mana.

Dalam sajak di atas sampah dapat ditemukan di kursi restoran, di hotel, di meja direktur, di tempat penyeberangan, di bawah pos satpam, di ruang sidang, di ruang tunggu rumah sakit, di pot bunga, di istana presiden, di bawah tiang bendera merah putih, dan di balik gerbang MPR.

Sebagai warga negara yang peduli dengan lingkungan tentunya tidak perlu tersinggung dengan sajak di atas. Karena di negara ini sampah ada di mana saja. Sampah dalam arti yang lain yaitu mereka para koruptor. Dengan sindiran tersebut diharapkan masyarakat indonesia dapat lebih sadar tentang cinta tanah air bukannya malah cinta uang tanah air. Sampah dalam arti sebenarnya juga merupakan hal yang banyak kita temukan, sampah berserakan di mana-mana dan sangat mengganggu lingkungan.

Dalam sajak di atas tidak semua kata sampah dimaksudkan sebagai sampah yang sesungguhnya. Misalnya pada kalimat Apakah di mulut manusia ada sampah? Yang dimaksud sampah pada manusia manusia adalah perkataan yang tidak baik (perkataan yang kotor), yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari manusia. Manusia sering menggunakan mulutnya sebagai alat untuk mengeluarkan sampah (perkataan yang kotor).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) metafora didefinisikan sebagai "pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yg sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan Pada sajak tersebut terdapat pengandaian yang disampaikan dengan metafora, yaitu antara lain Negeri kita ini negeri sampah. Temukan metafora lain yang sejenis dengan itu. Metafora itu adalah:
  • Sampah sudah menjadi bunga bunga nusantara.
  • Negeri kita tong sampah besar.
  • Sampah merajalela.
  • Apakah dimulut manusia ada sampah? 
  • Sampah sudah menjadi bunga-bunga nusantara.
LihatTutupKomentar